Showing posts with label Info militer. Show all posts
Showing posts with label Info militer. Show all posts

6/10/2017

Update Gambar Close Up Maket Pesawat KFX/IFX Indonesia Terbaru (2017)

Update Gambar Close Up Maket Pesawat KFX/IFX Indonesia Terbaru (2017) - Baru baru ini terdapat sebuah foto proyek jet pesawat tempur KFX hasil kerja sama bareng Korea Selatan - Indonesia yang beredar di dunia maya.

Pada foto tersebut terlihat bahwa jet tersebut mempunyai konfigurasi single seat dan double engine yang dikabarkan terakhir akan memakai mesin buatan General Electric F414-400. Mesin ini punya daya dorong 25.500 pound, mesin ini pengembangan dari seri F404 yang dipakai oleh jet tempur Boeing F18 Hornet dan jet latih/tempur ringan T/A 50 Golden Eagle yang telah dipakai oleh TNI AU.

Pada bagian radar akan dibesut oleh jenis AESA radar yang sampai saat ini belum dipilih oleh ADD siapa pemasoknya, Radar ini merupakan salah satu dari 5 core technology yang tidak diberikan oleh Amerika Serikat oleh karena itu pemerintah korea selatan lantas mengembangkan sendiri radar AESA yang digawangi oleh hanhwa Thales sebagai main contractor yang dibantu oleh produsen dari israel yaitu IAI.

Dalam maket juga terlihat bahwa KFX ini dilengkapi oleh IRST yang terletak di depan kokpit yang berbentuk seperti bola, terlihat jua pesawat ini membawa targeting pod yang berfungsi untuk membantu mengakusisi target high value di darat. Soal misille air to air terlihat KFX membawa 4 missile AMRAMM di centerline body.

Akan tetapi para pemerhati kemiliteran di Indonesia bakal sedikit kecewa karena maket KFX ini masih belum bernuansa "stealth" yang selama ini digembar gemborkan di media massa, dari maket terlihat bahwa semua bawaan jet ini masih menempel di pylon belum terlihat adanya IWB (internal weapon bay) yang jamak terlihat di pesawat generasi ke 5 macam F-35 lightning dan F-22 Raptor.

Gambar Close Up Maket Pesawat KFX/IFX Indonesia


Pesawat KFX/IFX Indonesia
kfx ifx terbaru
kfx ifx 2017
kfx ifx terkini
gambar kfx ifx terbaru

Sumber

5/13/2017

Kaplan MT Bisa Dijual ke Negara Timur Tengah dan Asia Tengah

FNSS Turki dan PT Pindad Indonesia meluncurkan medium tank yang dikembangkan bersama, KAPLAN MT, pada International Defense Industry Fair (IDEF) ke-13 di Istanbul pada tanggal 10 Mei.

CEO FNSS, Nail Kurt mengatakan pada sebuah konferensi pers bahwa program KAPLAN MT tidak hanya mewakili produk baru, tetapi juga penerapan pendekatan baru untuk kerjasama di industri pertahanan multinasional.
Kaplan MT Bisa Dijual ke Negara Timur Tengah dan Asia Tengah
Kurt mengatakan bahwa sejalan dengan visi baru FNSS sebagai mitra pertahanan yang terpercaya dan dihormati dunia, program tank diluncurkan tiga tahun lalu dengan PT Pindad, didampingi oleh menteri pertahanan kedua negara.

“Medium tank ini adalah solusi yang sangat efektif untuk kondisi peperangan asimetris saat ini yang dihadapi oleh banyak Angkatan Darat,” katanya.

“Kondisi saat ini menuntut penyebaran yang mudah dan cepat, mobilitas tinggi, visibilitas rendah, daya tembak tinggi, namun dengan biaya yang rendah,” tambahnya.

Menyoroti kesuksesan perusahaan di mancanegara sebelumnya, Kurt mengatakan, seperti di UAE, Malaysia dan Arab Saudi, seluruh industri ini juga akan mengikuti FNSS di Indonesia dan akan mendukung peningkatan hubungan dagang antara kedua negara sahabat tersebut.

Pabrik kendaraan lapis baja FNSS adalah perusahaan patungan di mana Turkish Nurol Holding dan British BAE Systems masing-masing memiliki 51 dan 49 persen saham.
Kaplan MT
The picturesque steppe desert landscape with mountains 
and the dry ground with rare plants on a 
background of blue sky and clouds. (defence.pk)


Kemampuan Gerak
Tank KAPLAN MT dirancang untuk memberikan kemampuan menembak yang powerful dan pilihan amunisi yang banyak serta kemampuan superiornya untuk bergerak.

Kubah CMI Cockerill 3105 dilengkapi dengan meriam 105mm high-pressured, memberikan daya tembak yang powerful.

Tank ini ditenagai dengan mesin diesel, memiliki transmisi otomatis penuh dan mampu mengangkut tiga anggota awak, antara lain seorang supir, penembak dan komandan.

Perwakilan Turki untuk Industri Pertahanan, İsmail Demir mengatakan bahwa proyek pengembangan medium tank merupakan program government-to-government (G to G) yang merupakan bagian dari kesepakatan kerjasama pertahanan antara dua “brother countries.”

“FNSS dari Turki dan PT Pindad dari Indonesia ditugaskan untuk melaksanakan program yang dimulai dengan tanda tangan kami di IDEF sebelumnya, di tahun 2015,” kata Demir.

Dia menunjukkan bahwa prototipe tersebut akan tampil selama pawai militer Hari Angkatan Darat di Indonesia pada tanggal 5 Oktober.

“Setelah kendaraan tersebut memenuhi persyaratan Angkatan Darat Indonesia, maka akan siap untuk diproduksi. Prototipe ini akan melayani kebutuhan tentara Indonesia dan tentara Turki, “ tambahnya.

Menekankan peluang ekspor, Demir mencatat akan ada potensi besar untuk dijual ke negara lain.

“Saya mengucapkan selamat kepada kedua perusahaan dalam program ini dan ingin menekankan bahwa kami siap mendukung produksi dalam program ini dengan memaksimalkan kerja sama antar negara,” tambahnya.

Dr Sutrimo Sumarlan, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan untuk Indonesia, mengatakan bahwa proyek tank tiga tahun tersebut tidak hanya berhasil bagi perusahaan Turki dan Indonesia, tetapi juga untuk kedua negara sahabat.

“Indonesia dan Turki percaya bahwa medium tank ini tidak akan diproduksi hanya untuk kedua negara. Kita bisa menjualnya ke negara lain, terutama di Timur Tengah dan Asia Tengah, ” tambah Sumarlan, sebagaimana dilansir dari Hurriyet Daily News (10/05).
Photo : Kaplan MT (defence.blog)
Editor : (D.E.S)

12/01/2016

Proyek Kapal Selam Mini akan Dimulai 2017

Kapal selam mini 22 meter (photo : Ijal Lubis)
Kapal selam mini 22 meter (photo : Ijal Lubis)


Di sela-sela pameran Indo Defence 2016 Defense Studies sempat mendatangi dan berbincang-bincang dengan beberapa pihak yang akan terlibat dalam Proyek Kapal Selam Mini. Proyek ini akan memakan waktu tiga tahun dan sedapat mungkin akan menggunakan komponen dari dalam negeri.

Proyek Kapal Selam Mini akan Dimulai 2017 dengan biaya berkisar Rp 200 - 300 milyar ini akan dilakukan selama tiga tahun (2017-2019), pada tahun 2017 akan dibangun badan bagian tengah (mid body), sedangkan pada tahun 2018 dibangun bagian ujung depan dan belakang (edge body), tahun 2019 kapal selam ini sudah utuh dan akan mengalami pengujian berlayar dan menyelam untuk memperoleh sertifikasi kelaikan.

Pembuatan kapal selam ini merupakan kerja keroyokan dari Balitbang Kementerian Pertahanan bersama dengan Palindo Marine, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan Balai Teknologi Hidrodinamika-BPPT. Balitbang Kemhan merupakan pihak yang memprakarsai dan menyiapkan anggaran, Palindo Marine adalah galangan yang akan membuat kapal selam ini. ITS yang membuat detail desain dari konsep kapal selam 22m, UI yang membuat welding procedure dan melakukan tes, sedangkan BPPT yang akan menguji kapal selam ini.

Kapal dengan panjang 22m dan lebar 3m ini dirancang untuk sanggup menyelam hingga kedalaman 150m, kecepatan maksimal di air adalah 10 knot, baik ketika sedang menyelam atau di permukaan air. Kapal mempunyai endurance selama 6 hari, kapal dapat melaksanakan regenerasi udara selama 3 hari tanpa melakukan snorkeling. Berat total kapal saat menyelam adalah 127,1 ton.

Screw propeller
Screw propeller berbilah tujuh dan thruster sebagai secondary propeller (photo : reddit kamome)


Untuk mengawaki kapal selam ini cukup dibutuhkan 5 orang saja. Kapal juga masih dapat menampung 7 hingga 9 orang penyelam untuk dapat melakukan operasi khusus berupa penyusupan.

Badan kapal selam akan menggunakan bahan baja HY-80 22mm, ini merupakan jenis high-tensile alloy steel yang biasa digunakan untuk membuat badan (hull) kapal selam. Khusus untuk bahan baja ini akan minta kesediaan PT. Krakatau-Posco (joint venture antara PT Krakatau Steel dan Posco (Korea) untuk memasoknya.

Kapal selam ini akan menggunakan baling-baling tunggal berbilah tujuh berjenis high screw propeller, juga akan dilengkapi dengan 2 buah thruster sebagai secondary propeller. 1 thruster diletakkan di depan (bawah bodi), dan satu lagi di belakang (atas bodi). Belum ada info untuk pabrikan lokal yang sanggup memasok propeller ini.

Untuk peralatan periskop dan optronics masih dikaji jenis non-hull penetrating optronics periscopes (periskop yang tidak perlu melubangi bodi). Sementara ini yang dikaji adalah produk buatan Prancis, namun peluang terbuka bila PT Len sanggup untuk membuatnya.

Thruster kapal selam mini
Thruster kapal selam mini ini 1 terletak di bagian belakang (atas bodi) dan satu di bagian depan (bawah bodi) (photo : Jane's)

Desain asli kapal selam ini adalah tanpa persenjataan, namun pihak calon pengguna yang dalam hal ini adalah TNI AL menginginkan kapal selam ini dilengkapi dengan 2 torpedo. Mengingat bagian dalam kapal yang sudah penuh maka torpedo akan diletakkan di luar bodi, jenis yang dipilih adalah 2 torpedo ringan. Posisi torpedo di luar bodi adalah umum digunakan untuk desain kapal selam mini.

Untuk mission system baik Len maupun Infoglobal menyatakan sanggup untuk memasok 4 peralatan utama kapal selam ini yaitu : inertial navigation unit, sistem deteksi, torpedo control system, dan combat management system.

Sperti halnya kapal selam tipe diesel elektrik pada umumnya, komponen penggerak kapal selam ini memerlukan generator diesel, elektrik motor dan baterai. Untuk generator diesel dan elektrik motor direncanakan masih import.

Untuk baterai kapal selam ini tidak perlu import, karena pabrikan lokal yaitu PT Garda Persada sanggup untuk memasoknya. Perusahaan ini merupakan perusahaan anak dari PT Nipress Tbk. Perusahaan masih menimbang untuk menggunakan baterai jenis Lithium atau Lead Acid, karena dari sisi teknologi keduanya memungkinkan, hanya tinggal masalah ukuran ruangan yang tersedia.

(Defense Studies)

11/27/2016

Taruna AAL Berlatih dengan KRI Ki Hajar Dewantara

KRI 364
Merupakan kapal korvet latih yang memiliki berat 1,850 ton, dan panjang 96,70 meter, yang dibangun oleh galangan Uljanic SY, Split, Yugoslavia (photo : Kaskus Militer)


Danlanal Bangka Belitung Sambut Satlat Jalayudha Taruna AAL


Jakarta --- Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Bangka Belitung Kolonel Laut (P) Teguh Gunawan, S.E.,M.M.,  beserta Prajurit Lanal Bangka Belitung menerima kedatangan KRI Ki Hajar Dewantara-364 yang membawa Satlat Jalayudha Taruna AAL tingkat IV angkatan 62 tahun 2016 ditandai dengan Merflug oleh Prajurit Lanal Bangka Belitung di Pelabuhan Umum, Pangkal Balam, kota Pangkalpinang, Jumat (25/11).

Dalam  penyambutan Satlat Jalayudha Taruna AAL tingkat IV angkatan 62 tahun 2016 dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Kep.Babel. Dansatgas Satlat Jalayudha 2016 Kolonel Laut (P) Eko Wahyono serta Dan Kolonel Laut (P) Alan Dahlan mendapat sambutan dari sanggar tari dengan memperagakan Tarian selamat datang di Provinsi Kep.Babel. 

Sebanyak 96 Taruna Taruni Cadet AAL selanjutnya akan melaksanakan kunjungan ke Kediaman Plt. Gubernur Bangka Belitung, Kapolda Babel dan Danrem 045/Gaya serta melaksanakan kegiatan promosi bersama tim Lapetal mengajak para remaja yang memiliki potensi di Wilayah Babel untuk bergabung bersama TNI AL.    

Disamping kegiatan tersebut para Taruna Taruni AAL akan melaksanakan Kirab kota dengan melakukan pertunjukan Drumband oleh Genderang suling Gita Jala Taruna Cadet AAL keliling Kota Pangkalpinang. (TNI AL)


KRI Ki Hajar Dewantara 364
KRI Ki Hajar Dewantara 364 (photo : wiki)



Korvet Lawas Legendaris TNI AL


Mungkin tak banyak orang tahu mengenai sepak terjang kapal legendaris tersebut. Kapal perang jenis korvet yang berperan sebagai kapal latih tempur tunggal bagi para perwira TNI AL berusia lebih dari tiga dekade ini telah banyak mengukir prestasi membanggakan bagi bangsa Indonesia. 

Dikutip dari Indomiliter, KRI berkode KDA-364 ini pertama kali dibeli oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1980.

Kapal ini dibangun di galangan Uljanic Ship Yard, Yugoslavia. Berbobot penuh 1.850 ton, kapal ini masuk kategori light frigate atau korvet. Sebagai kapal kombatan, KDA-364 dilengkapi persenjataan canggih di zamannya. 

Di antaranya meriam Bofors 57 mm MK1 di haluan, dua pucuk kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall Rh202 kaliber 20 mm di depan anjungan. Sedangkan senjata pamungkasnya terdapat empat buah rudal antikapal MM38 Exocet. Sementara senjata Anti Kapal Selam (AKS) dilengkapi dua peluncur torpedo SUT 21 inchi.


KRI Ki Hajar Dewantara 364 (photo : Indomiliter)
KRI Ki Hajar Dewantara 364 (photo : Indomiliter)


Kapal perang legendaris TNI AL ini juga dilengkapi helikopter, sehingga di bagian buritan terdapat helipad yang mampu didarati helikopter sekelas NBO-105 atau Westland Wasp. 

Sayangnya, helikopter di kapal perang ini tidak dibekali fasilitas hangar. Kapal ini juga dilengkapi kabin kamar yang jumlahnya lebih banyak dari kapal pada umumnya. Ia juga dilengkapi ruang kelas bagi para perwira TNI AL. 

Sepak terjang paling fenomenal dari bernomor lambung 364 ini ialah saat ia berhasil mengitersep kapal feri Lusitania Expresso pada tahun 1992. Saat itu, KRI Ki Hajar Dewantara 364 yang tergabung dalam Satgas Operasi Aru Jaya diperintahkan menghalau kapal feri dari Portugal yang ingin melakukan provokasi di lepas pantai Timor Timur (kini Timor Leste). (Okezone)

11/21/2016

Enam Tipe Jet Tempur Milik Indonesia - Info Militer

Fly past pesawat tempur TNI AU (photo : Tempo)
Fly past pesawat tempur TNI AU (photo : Tempo)

6 Jet Tempur Milik Indonesia, Mana yang Paling Hebat?


Liputan6.com, Jakarta - Presiden RI Joko Widodo telah berkomitmen untuk meningkatkan kemanan Indonesia. Terlebih isu Laut China Selatan terus diramaikan di dunia internasional.

Salah satu elemen penting dalam menjaga kedaulatan NKRI ialah TNI-AU. Saat ini kekuatan TNI-AU menjadi yang diperhitungkan di Asia Tenggara.

Selain didukung kemampuan seluruh personel yang dimiliki, berbagai alutsista yang dimiliki TNI-AU dinilai juga cukup mumpuni, seperti salah satunya pesawat tempur.

Saat ini TNI-AU telah memiliki enam jenis pesawat jet tempur. Jet-jet tempur ini memiliki fungsi dan kemampuan masing-masing, apa saja itu?


1. Hawk 209

Hawk 209 TNI AU (photo : ipenk)
Hawk 209 TNI AU (photo : ipenk)

Jet ini merupakan pesawat buatan Hawker-Siddeley. Hawk Mk 209 yang dimiliki TNI-AU ini memiliki fungsi sebagai pesawat jet latih untuk pesawat tempur generasi 4. Adapun jet tempur generasi 4 diantaranya seperti F-15, F-16 dan lain sebagainya.

Pertama kali TNI-AU membeli pesawat ini pada tahun 1997.‎ Hawk Mk 209 merupakan varian single seater dari keluarga Hawk. Pesawat jet ini dikhususkan untuk mengemban misi air superiority dan ground attack.

Malaysia juga memiliki sejumlah Hawk Mk 108/208 yang merupakan varian Hawk pertama yang bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara


2. T-50 Golden Eagle

Pesawat T-50i TNI AU (photo : Motty)
Pesawat T-50i TNI AU (photo : Motty)

Memiliki fungsi hampir sama dengan Hawk 209, T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih (trainer) supersonik buatan Amerika-Korea.

Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries (KAI), dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan. Program T/A-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan.

Program ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik untuk melatih dan mempersiapkan pilot bagi pesawat KF-16 (F-16 versi Korea).

T-50 mmembuat Korea Selatan menjadi negara ke-12 yang mampu memproduksi sebuah pesawat tempur jet yang utuh. Beberapa produk korea lainnya adalah KT-1 produk Samsung Aerospace (sekarang bagian dari KAI), dan produk lisensi KF-16.

Sebagian besar sistem utama dan teknologinya disediakan oleh Lockheed Martin, secara umum bisa disebut T/A-50 mempunyai konfigurasi yang mirip dengan KF-16.


3. F-16 Fighting Falcon

Pesawat F-16D TNI AU (photo : TNI AU)
Pesawat F-16D TNI AU (photo : TNI AU)
F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran supersonik yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer.

Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat.

Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976.

Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.


4. F-5E Tiger II

Pesawat F-5F TNI AU (photo : Efendy)
Pesawat F-5F TNI AU (photo : Efendy)

F-5E/F Tiger II adalah sebuah bagian dari keluarga pesawat tempur supersonik ringan yang dirancang dan diproduksi oleh Northrop, di Amerika Serikat, sejak tahun 1960-an. Ratusan pesawat ini masih dipakai oleh berbagai angkatan udara di dunia sampai abad ke-21.

Pesawat ini juga menjadi dasar untuk pengembangan beberapa pesawat lainnya. Produksi pesawat F-5A dan F-5E berakhir pada tahun 1972 dan 1987.

F-5E Tiger II, juga banyak digunakan oleh negara sekutu Amerika Serikat, dan di Amerika Serikat sendiri dipakai sebagai pesawat latih tempur. Jumlah Tiger II yang diproduksi sampai tahun 1987 mencapai 1400 buah. Pesawat F-5 yang masih dipakai sampai tahun 1990-an dan 2000-an telah melalui banyak modifikasi pembaruan.


5. Sukhoi Su-27 (Kode NATO : Flanker)

Pesawat Su-27SKM TNI AU (photo : Reska KN)
Pesawat Su-27SKM TNI AU (photo : Reska KN)
Sukhoi Su-27 merupakan pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet.

Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip.

Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat.


6. Sukhoi-Su-30 (Kode NATO: Flanker-C)

Pesawat Su-30MK2 TNI AU (photo : Richard S)
Pesawat Su-30MK2 TNI AU (photo : Richard S)
Sukhoi Su-30 adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multifungsi, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet dan F-15E Strike Eagle Amerika Serikat.

Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KnAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KnAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut.


(Liputan6)

11/19/2016

Benarkah Heli Apache AH-64E longbow Milik Tni Indonesia Paling Baik? Ini Kisahnya Saat Disandingkan Mi-28

helikopter-helikopter militer tercepat
TNI AD berencana mengoperasikan helikopter seranig AH-64 Apache Longbow tahun depan. Banyak pihak beranggapan kalau heli Apache adalah helikopter serang kelas berat paling canggih dan tak terkalahkan di dunia. Benarkah demikian? berikut adalah penjelasan mengenai pertanyaan Benarkah Heli Apache AH-64E longbow Milik Tni Indonesia Paling Baik? 

Pembangunan citra positif Apache dilakukan komprehensif, mulai dari publikasi kisah suksesnya di Perang Teluk, hingga dijadikan bintang di beberapa film garapan Hollywood, seperti Fire Birds dan G.I. Joe: The Rise of Cobra. Sebaliknya, produk Rusia kerap dihina-dina, bahkan dikesankan Rusia menjual produknya ke negara lain dengan kualitas nomor dua.
Satu kisah menarik saat heli Apache dibandingkan dengan heli Rusia Mi-28 terjadi justru bukan di medan tempur, tetapi di medan pengujian Swedia. Saat itu Swedia ingin mencari pengganti helikopter Hkp 9A alias BO-105CB yang merupakan helikopter antitank utama dan telah digunakan sejak 1980-an. Kontes yang diluncurkan pada 1995 ini diikuti oleh Mi-28 Havoc, Ka-50 Werewolf, AH-64A Apache, Bell AH-1W Super Cobra, A129 Mangusta, Euroopter Tiger, dan Denel CSH-2 Rooivalk.
Syarat utamanya adalah heli terpilih harus bisa beroperasi di iklim Skandinavia yang sangat dingin, dan pengujiannya berlangsung sangat komprehensif. AD Swedia minta agar seluruh heli yang memenuhi syarat harus diterbangkan pilot Swedia. Pengujian mencakup uji penembakan dengan amunisi tajam. Selain mudah dirawat, heli yang terpilih juga harus minim biaya operasional.
Akhirnya setelah seleksi awal, terpilihlah AH-64A dan Mi-28. AH-64A boleh dikata punya segalanya; baru menang perang dengan menggasak sekian puluh tank Irak, dan sistemnya sudah matang. Mi-28 masih tertatih-tatih dalam fase pengembangan akhir. Betapapun, tim Rusia siap ketika mereka dipanggil ke Swedia untuk evaluasi selama empat minggu pada April 1995.
Pengujian dilakukan di Distrik Militer Utara yang beriklim kutub untuk mengetes kemampuan mesin dan sistem senjata, baik atas sasaran darat maupun udara. AS mengirimkan dua AH-64A yang berpangkalan di Hanau, Jerman untuk uji coba. Sementara awak dari Swedia dilatih di Mesa, Arizona.

Setelah segalanya siap, AH-64A diterbangkan pilot Swedia dan AS ke Swedia dan mendarat di Linkoping pada Agustus 1995. Selama empat minggu diuji, kedua AH-64A membukukan 99 jam terbang. Performanya kurang memuaskan. Satu atau dua heli mengalami kerusakan. Beragam problem timbul seperti sistem software bermasalah, tabung roket tak bisa digunakan, sistem kamera di hidung harus diganti, laser designator rusak, satu sistem kanon M230 komponennya butuh diganti, dan rotor harus diperbaiki.



Sumber gambar: wallpaperscraft.com
Sumber gambar: wallpaperscraft.com

Lima dari 20 sorti misi yang direncanakan gagal dilaksanakan. Sistem navigasinya ditemukan bermasalah dimana koordinat lintang utara yang lebih besar dari 65 derajat tidak dapat dimasukkan. Kelihatannya programmer sistem terlalu malas mengecek dan berharap AH-64A tidak akan digunakan di Skandinavia, yang ternyata terbukti salah! Karena sistem navigasi bermasalah, misi terbang malam akhirnya tak bisa dilakukan.
Sementara itu, satu Mi-28 Bort 042 dikirim ke Swedia menggunakan pesawat angkut Il-76 dikoordinasikan oleh Rosvoorouzhenie yang merupakan pendahulu Rosoboronexport. Pilot-pilot Swedia dikirim ke Moskow untuk berlatih dengan Mi-24 dan Mi-28. Namun karena keterbatasan sistem dimana Mi-28 saat itu masih menggunakan sistem kemudi tunggal, akhirnya awak Swedia hanya bisa duduk sebagai juru tembak. Koordinasi dengan pilot Rusia yang justru tak bisa berbahasa Inggris dilakukan dengan penerjemah yang terbang di helikopter chaser.
Dengan profil misi serupa dengan AH-64A, Mi-28 justru bersinar. Awak Swedia yang terbang di kursi depan menemukan bahwa sistem bidiknya bekerja baik, ergonomi di kokpit terbukti bagus walau sudut pandang terbatas, dan heli dapat dioperasikan oleh pilot yang baru memiliki sedikit pengalaman di Mi-28.
Akurasi penembakan sangat baik dan rudal Shturm dan Ataka yang ditembakkan dari jarak 4,7 kilometer mengenai sasarannya dengan CEP hanya satu meter. Roket S-80 yang diuji bahkan dikatakan akurat sampai jarak 4.000 meter dengan akurasi 88% dari 40 penembakan. Selama 30 jam pengujian, tidak sekalipun ada masalah yang membuat sorti Mi-28 dibatalkan. Sejumlah problem minor memang ada, namun bisa diselesaikan. AD Swedia menganggap bahwa Mi-28 adalah helikopter yang kuat dan andal.
Sayangnya, pengujian fase kedua yang rencananya akan diadakan pada 1999-2000 tidak pernah terjadi. Padahal rencananya fase kedua ini akan diikuti oleh AH-64D Longbow dan Mi-28N yang keduanya memiliki fitur dan kemampuan yang boleh dikata imbang. Krisis ekonomi mementahkan rencana pengadaan heli serang AD Swedia, dan sebagai gantinya justru Agusta A109 Power yang dibeli. Sayang sungguh sayang, kata penutup final yang akan menuntaskan siapa yang terbaik di antara dua rival yang mewakili dua kutub kekuatan besar dunia ini, tidak pernah terjadi.

Author: Remigius S. & Aryo Nugroho

Angkasa

4/15/2015

Tembus Tank Baja, Senapan ‘Sniper’ Indonesia Gegerkan Dunia | Berita Militer Indonesia

Jakarta – Penembak runduk. Istilah itu bisa ditelusuri sejak tahun 1770-an, di kalangan prajurit kolonial Inggris di India. Barang siapa mahir memburu burung snipe yang konon sulit ditembak, maka ia berhak mendapat julukan ‘sniper’.
Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergeseran arti. Yakni, prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.

Indonesia baru kehilangan sniper legendaris yang diakui dunia, Tatang Koswara, yang meninggal dunia pada 3 Maret 2015. Namun, Bumi Pertiwi menghasilkan kebanggaan yang lain, senapan penembak runduk (SPR) yang diproduksi PT Pindad: SPR 2.

Ilustrasi Pindad
Ilustrasi Pindad
SPR ini bukan sembarang senjata. Pelurunya bisa menembus tank baja. Dan bahkan, ada peledak di balik munisi tersebut yang bisa menghancurkan kendaraan tempur dalam sekejap. Lebih hebat lagi, SPR 2 juga memiliki jangkauan tembak hingga 2 kilometer (km). Kemunculannya menggemparkan dunia sniper.

“Senjata yang mendunia, kalau kita fokus ke senjata, kita punya SS-1, SS-1 dan beberapa varian. Kita juga punya SPR-2 yang baru kita launching dan langsung dibeli oleh Kopassus,” kata Direktur PT Pindad Silmy Karim kepada Liputan6.com.

Mantan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) itu menambahkan, senjata-senjata yang merupakan produk unggulan Pindad, kualitasnya sudah teruji. Siap digunakan di medan tempur. “Dan ternyata memang bisa diterima dan malah lebih unggul dari pada produk impor,” ujar dia.

Secara rinci, SPR 2 berkaliber 12,7 mm x 99 mm, panjang senapan 1.755 mm, berat keseluruhan 19,5 kg, panjang barel 1.055 mm, kapasitas peluru antara 5-10 butir. Rifling atau alur spiral berulir pada bagian dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves, RH 381 mm (15”) twist. Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900 meter per detik dan jangkauan 2 km.

SPR-2-xx

Menurut Silmy, keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan dari negara adalah terletak pada jangkauan, ketepatan, dan silencer atau peredam suara hentakan dari tembakan.

Silencer yang dipasang bisa menurunkan hentakan suara tembakan sekitar 20-30 desibel. Senjata ini juga dilengkapi perangkat night vision dan teleskop dengan pembesaran ukuran 5-25 kali.

“Senjata kita ini ada peredam dari recoil-nya (hentakan), yang ini cukup membuat kesulitan bagi produsen lain dalam mendesain produk yang digunakan oleh sniper. Di samping itu, senjata sniper ini relatif sangat khusus. Dalam arti tidak massal di mana tingkat ketelitiannya harus maksimal,” ungkap dia.

Direktur Pindad ini mengakui manfaat ekonomis dari pembuatan SPR 2 ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi ia menekankan, keberhasilan pembuatan senapan runduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan alutsista yang inovatif dan mutakhir.

“Untuk membuat sniper ini, effort-nya (usahanya) banyak, tetapi secara ekonomis, manfaatnya tidak terlalu banyak. Tetapi kita dalam hal ini melakukan dalam konteks kemandirian. Dalam konteks kita mampu membuat senjata yang dapat digunakan oleh sniper,” kata Silmy.

Kepada Liputan6.com, teknisi Pindad Diding Sumardi menunjukkan wujud senapan SPR 2, aksesoris, dan berbagai pelurunya. Ada tiga jenis peluru yang bisa digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga bisa meledakkan target.

Atas kemampuannya yang luar biasa, Sniper SPR 2 mendapat pengakuan dari dunia internasional. 


Terbukti, senapan jitu ini masuk rekomendasi di situs alat utama sistem senjata (alutsista) Weaponsystems.net, bersanding dengan senjata canggih lainnya dari penjuru dunia, seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Serbia.

Bahkan, tentara Singapura pernah melontarkan pujian untuk SPR 2. “Good!“, ujar seorang penembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21, di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, dengan adanya SPR 2 ini, Indonesia bersanding dengan tiga negara lainnya yang mampu membuat senapan runduk serupa, yakni Amerika Serikat (AS) dan dua negara di Eropa.

Dunia militer Indonesia naik tingkat dari sebelumnya. Meski begitu, PT Pindah belum menjualnya kepada negara lain. Sejauh ini, baru Komando Pasukan Khusus (Koppasus) TNI AD yang sudah mengoperasikannya. Mengenai harga per unitnya, SPR 2 ini dibanderol sekitar Rp 200 juta per pucuknya.

Produk PT Pindad yang menghentakkan dunia internasional tidak hanya senapan SPR 2, tapi juga panser Anoa. Kendaraan taktis (rantis) ini telah diproduksi sebanyak ratusan unit dan tersebar di Indonesia maupun negara lain. Kepuasaan pelanggan membuat rantis, yang terdiri 5 varian yakni Armored Personnel Carrier, Ambulance, Logistic, Recovery dan Remote Control Weapon System, ini pun tidak pernah luput dari permintaan. Harganya berkisar Rp 25-30 miliar.

Armoured Personnel Carrier atau lebih dikenal dengan Anoa 6 x 6 APC yang khusus mengangkut tentara ini dilengkapi sejumlah peralatan seperti alat deret Winch dengan daya deret 6 ton, Pioneer Set atau tombol pengendali, alat pemadam kebakaran, alat penyejuk Udara, toolkit pengemudi, lampu dan peta, jaring kamuflase, hydraulic rear rampdoor system atau sistem pintu hidrolik, smoke grenade dischargers atau alat peluncur granat berkaliber 66 mm yang jumlahnya 3 di kanan dan 3 di kiri kendaraan.

Panser ini juga bisa dilengkapi beberapa fitur opsional seperti sistem komunikasi dan pergerakan AM, FM Radio dan Intercom Set, GPS, NVG, Add -on. Kemudian ada keramik lapis baja Armament; sistem remote control RCWS-Cal 7,62/12,7 mm (remote control weapon system), dan senjata di bagian belakang senapan mesin ringan 7,62 mm. Anot 6 x 6 APC ini berjalan naik hingga 45 derajat dan turun 10 derajat, serta memutar 360 derajat.

Anoa lain yang tak kalah canggih adalah Recovery dan Remote Control Weapon System (RCWS). Spesifikasinya serupa dengan Anoa APC. Hanya fungsinya berbeda. RCWS memiliki keunggulan dengan sistem remote control, sehingga tentara tidak perlu naik ke atap untuk menembakkan senjata.

Untuk Anoa Ambulance memiliki fungsi khusus mengangkut korban yang muatannya lebih banyak dan dilengkapi anti-peluru. Sedangkan Anoa Logistic untuk mengangkut berbagai macam barang, seperti peluru, makanan dan tenda. Anoa Recovery untuk memperbaiki persenjataan yang rusak, termasuk sebagai mobil derek.

APRV-1V yang berbasis chasis truk komersial pada tahun 2004

Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan kendaraan tersebut kini masih dalam tahap sertifikasi.

Awal dibuatnya Anoa tidak lepas dari operasi militer yang dilakukan di Aceh pada tahun 2003. Saat itu, TNI Angkatan Darat (AD) meminta kendaraan lapis baja untuk transportasi pasukannya. Pindad pun merespons dan mengembangkan kendaraan angkut personal ringan atau APRV-1V yang berbasis chasis truk komersial pada tahun 2004. Sayangnya proyek 40 unit yang dipesan TNI AD ini terpaksa dibatalkan karena bencana tsunami pada akhir Desember 2014.

Tidak berputus asa, dengan dibantu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PT Pindad terus menyempurnakan APR-1V varian 4X4 tersebut. Akhirnya mereka berhasil mengembangkan panser sesuai tantangan Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, Panglima TNI saat itu, bernama APS1-V1 atau yang dijuluki “Si Jablay” oleh PT Pindad.

Pengembangan berbagai varian pun terus dilakukan, hingga akhirnya di penghujung tahun 2007 terjadi momen kebangkitan PT Pindad, seperti yang dilontarkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden saat itu. Pemerintah Indonesia memesan 150 panser ke PT Pindad dengan nilai kontrak Rp 1,1 triliun. Ratusan panser itu kemudian digunakan oleh TNI AD. Kejadian ini menjadi momen bersejarah karena menjadi order terbesar sejak Pindad berdiri pada tanggal 29 April 1983. Seperti yang disampaikan Direktur Teknologi dan Pengembangan, Ade Bagdja seperti tertulis di buku “Pijakan untuk Kemandirian Alutsista” 30 Tahun PT Pindad.

“Yang harus diketahui oleh generasi mendatang adalah perjuangan kita untuk membayar itu. Demi bangsa dan negara, kita mesti bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pada tahun itu (2008), kami hanya mendapat libur 1,5 hari. Sehari Idul Fitri, setengah hari Idul Adha. Bahkan, saya dan ada beberapa yang lain sempat dibekali koper oleh istri karena hanya pulang ke rumah untuk mandi dan makan saja,” ungkap pria berkaca mata itu.

Kerja keras dan perjuangan pengembangan Panser Anoa pun berbuah hasil. Saat ini. ada ratusan unit yang diproduksi PT Pindad. Pengembangan kendaraan ini pun dikembangkan salah satu perusahaan yang tergabung dalam BUMN Industri strategis ini.

Direktur Operasi Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa varian terbaru. Seperti panser Anoa menggunakan senjata kanon 20 mm, versi amphibious hingga menggunakan meriam canon 90 mm. Dalam pengembangan ini, PT Pindad tidak sendiri. Selain menggandeng mitra dari luar negeri, sejumlah perusahaan Tanah Air baik negeri maupun swasta turut membantu mengembangkannya.

“Ini sudah menggunakan system automatic, yang mahal di sistem senjata adalah sistem penembakannya. Nah ini yang harus kita kuasai dan Pindad untuk sementara belum masuk di elektronik dan optiknya. Ini akan didukung oleh instansi lain seperti BPPT, PT Inti, PT Len, dan lain-lain,” imbuh Tri.


TNI menerima 24 unit Panser Anoa 6×6 buatan PT Pindad yang dipesan sejak tahun 2013 lalu (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kini Panser Anoa buatan PT Pindad telah mendapat pengakuan dunia internasional. Sewaktu di Lebanon pada Oktober 2014 lalu, Panser Anoa yang dibawa TNI dinyatakan layak bertugas oleh (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) dalam misi perdamaian. Lapisan baja dan rangka Anoa dinyatakan memiliki tingkat Stanag 3, yang bisa menahan peluru kinetis hingga 7,62×51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s. Anoa juga bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.

Mimpi Pindad Jadi Produsen Senjata Besar 2023

Sepak terjang PT Pindad tak hanya berhenti di sini. Direktur PT Pindad Silmy Karim menargetkan perusahaannya akan menjadi produsen senjata besar dunia pada tahun 2023 mendatang. Ia berharap target itu bisa tercapai lebih cepat.

“Kalau bisa tidak sampai 2023, saya menargetkan untuk tahun depan sudah kelihatan full range (berbagai jenis senjata) produk pindad. Dan ini boleh dibilang kalau kita mandiri, kita memang sudah mandiri kok,” ujar Silmy.

Dijelaskan dia, PT Pindad baru bisa dikatakan sebagai produsen senjata besar dunia jika telah memproduksi berbagai senjata dan amunisi. Misalnya, ada peluru kaliber besar dan kecil serta peluru kendali (rudal) dan jet tempur mutakhir. Namun persero tersebut tentu butuh dukungan dana dari pemerintah yang lebih besar.

“Anggaran pertahanan Amerika Serikat adalah 30 persen dari US$ 700 ribu per tahun. (Anggaran di) Indonesia baru untuk total industri dalam negerinya paling 5 persen. Sudah kecil, besarannya kecil pula persentasinya,” papar Silmy. “Tapi kita nggak apa-apa dalam arti kan kita punya cita-cita didorong ataupun tidak didorong, kita harus maju. Kalau kita mau cepat maju ya harus didorong, harus cepat dibantu.”

Sejauh ini, langkah PT Pindad untuk ‘go internasional’ sudah dekat dengan banjir pesanan dari luar negeri, termasuk dari Thailand, Filipina, Timor-Timur, Singapura, dan Malaysia. Menurut Silmy, penjualan terbesar di PT Pindad adalah amunisi atau peluru. PT Pindah hingga kini telah menghasilkan hampir seluruh range ukuran kaliber.

“Sekarang kita mendalami amunisi berkaliber besar 105, 90, 76, 155, 30, 40. Untuk medium sedang, tahun ini kita rencananya untuk amunisi medium sedang dan medium besar,” kata Silmy.

Seorang pengunjung melihat senjata laras panjang buatan Pindad di Indo Defence 2014, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/11/2014)(Liputan6.com/Herman Zakharia)

Dalam mengembangkan amunisi ini, PT Pindad akan bekerja sama dengan perusahaan pembuat senjata dari negara lain dengan proses alih-teknologi dan juga menjaring market internasional. Setelah mendapat ilmu dari pihak luar, PT Pindad kemudian akan mengembangkannya menjadi lebih canggih.

Selain amunisi, PT Pindad juga tengah mengembangkan panser amfibi yang bisa bermanuver di air dan danau. Namun kendaraan taktis tersebut baru bisa tahan di laut dengan ombak pada level tertentu.

“Nanti pengembangannya kita bisa sendiri seperti halnya pada waktu kita berkerjasama dengan pihak luar. Itu kan dengan (pembuatan senapan) SS 1 awalnya, tetapi pada akhirnya kita bisa membuat SS2. Nah pola ini kan sudah proven, nah ini kita pakai. Tidak ada salahnya kan untuk kendaraan kita bisa kerjasama dengan luar negeri untuk yang roda rantai,” papar Silmy.

Untuk mewujudkan semua ini, selaku orang nomor 1 di Pindad saat ini, Silmy mengajak dan mengimbau jajarannya untuk lebih bersemangat untuk membuktikan kepada dunia bahwa produk lebih unggul dibanding negara lain. Selain itu, ia juga selalu memberikan kewenangan kepada bawahan yang muda dan enerjik yang bisa terus memperbaharui teknologi dan mengejar pasar penjualan senjata.

“Saya bilang sama teman-teman di sini kita jangan jago kandang gitu. Kita harus bisa menang di luar. Saya dorong itu dan saya pilih penanggungjawabnya yang memang enerjik dan masih muda. Bahkan saya bilang ke mereka, kenapa kamu nggak ke luar negeri gitu untuk mencari pasar. Dan itu adalah salah satu cara untuk memperkenalkan (produk Pindad),” jelas Silmy.

“Menurut saya, kita masih belum memperkenalkan produk-produk unggul kita keluar. Tapi kalau masalah harga, kualitas kita tidak kalah. Yang masih belum kita lakukan pembenahan adalah di layanan purnajual ini yang lagi saya tata.”

Silmy menjelaskan, karakteristik di industri senjata sangat berbeda dengan industri biasa. “Karena industri defence (pertahanan itu tidak seperti industri pada umumnya. Kedekatan network itu adalah salah satu kunci untuk melakukan ekspor,” imbuh dia.

Meski demikian, upaya keras PT Pindad untuk menjadi produsen senjata internasional dirintangi hambatan. Menurut Silmy, PT Pindad yang berada di bawah naungan Kementerian BUMN sulit untuk berkembang lantaran keputusan dan kebijakan harus diputuskan melalui sejumlah proses yang disepakati bersama. “Saya daripada harus menunggu atau kendali di kita lebih baik saya bikin (kebijakan) sendiri. Kalau sudah jadi saya baru melapor, tolong di-support (dukung) produk ini untuk dibeli.”

Kendala lainnya adalah ketika yang melakukan riset adalah pihak lain, bukan Pindad. Silmy lebih memilih untuk melakukan riset secara mandiri dan bekerja sama dengan mitra asing. “Bukannya saya inginnya cepat-cepat, tapi karena kita sudah tidak ada waktu lagi untuk kita tidak berlari. Itu yang saya bilang ke teman-teman agar melakukan aktivitas yang lebih baik,” tandas Silmy.

Indonesia Makin Disegani

Wakil Komandan Satuan (Wadansat) 81 Penanggulangan Teror Kopassus Letkol Infanteri Murbianto yang ditemui Liputan6.com pada ajang Danjen Kopassus Cup 2015 mengungkapkan, perkembangan persenjataan di PT Pindad cukup membanggakan. Menurut dia, PT Pindad berhasil menunjukkan senjata produksi dalam negeri memiliki kualitas Internasional.

“Untuk saat ini akurasi dan daya tahan itu cukup bagus, kalau berat relatif ada juga memang yang beratkan tapi mungkin tapi kalau dibanding M-16 lebih berat SS-1. Tapi kalau akurasi terutama di jarak 100 -200 itu cukup bagus,” ungkap Murbianto di markasnya, Cijantung, Jakarta Timur.

Hal senada disampaikan Mayor Infanteri Faizal Izudin, Ketua tim kontingen TNI dalam ajang kompetisi nembak Internasional, ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-24 yang digelar di Vietnam pada tahun 2014 silam. Kata dia, menggunakan senjata produk dalam negeri dari PT Pindad membuat TNI disegani negara lain.

“Memang pada saat pelaksanaan AARM kemarin khususnya pada cabang Senapan maupun Carabine kita menggunakan produk dari Pindad. Ada SS1 maupun SS2 V2. Senjata ini kualitasnya tidak kalah dengan senjata-senjata lain seperti M-16 karena terbukti hasil penembakannya, kami masih bisa merebut juara umum,” ucap Pria yang bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus ini.

Faizal menilai kemampuan individu dan skill TNI yang baik harus juga harus selalu bersinergi dengan persenjataan yang mendukung. Terbukti, apa yang telah diperjuangkan TNI dan PT Pindad mendapat apresiasi yang luar biasa. “Dengan nilai-nilai yang kita dapatkan selama latihan maupun pertandingan khususnya, otomatis secara tidak langsung membuat penembak negara lain melihat senjata kita,” tuturnya.

Dia berharap PT Pindad terus berinovasi, berkreasi dan tidak menutup komunikasi dengan para petembak di lapangan demi memperbaiki dan mengembangkan kualitas senjata. Terlebih, menurutnya, perkembangan persenjataan negara lain semakin di-upgrade kualitasnya.

“Sudah otomatis, sebagai anak bangsa kita cukup bangga senjata yang dibuat sendiri kualitasnya tidak kalah produk-produk yang kelas dunia. Kita makin bangga bukan hanya mampu menyaingi bahkan mampu mengungguli karena nilai-nilai kita dapatkan juga bisa bersaing, namun kita tidak harus berpuas diri dan selalu mengevaluasi agar ke depan makin baik lagi,” harap Faizal.

Selain Faizal, Murbianto juga berharap sejumlah kekurangan kualitas senjata yang ditemukan di lapangan diharapkan bisa menjadi pelajaran untuk teknisi PT Pindad dalam membuat lebih baik untuk ke depan. Pihaknya pun siap membantu PT Pindad menyempurnakan senjata-senjata tersebut.

“Mungkin masalah standarisasinya perlu diperhatikan lagi, jadi setiap senjata yang dibuat kalau bisa sama semua. Kadang-kadang kami temukan senjata ini bagus namun dengan tipe yang sama tapi berbeda kualitasnya. Kita harapkan standarisasi Pindad lebih diketatkan lagi dan betul-betul memiliki kualitas sama dan bagus” tandas Murbianto. ( Liputan6.com )

4/07/2015

Info Militer : Menhan Inginkan SU-35 dan Kilo

Sukhoi Su-35. Foto: Wikipedia
Sukhoi Su-35. Foto: Wikipedia
Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu telah mengonfirmasi ketertarikannya untuk membeli pesawat Rusia Su-35, demikian disampaikan Direktur Rosoboronexport Sergei Goreslavsky dalam wawancara bersama RIA Novosti, 4/4/2015.

“Indonesia kembali menunjukan ketertarikannya untuk membeli Su-35 bagi Angkatan Udara Indonesia. Ini sekali lagi dikonfirmasi oleh menteri pertahanan Indonesia saat pameran,” kata Goreslavsky. Goreslavsky merupakan salah satu delegasi Rusia yang menghadiri pameran senjata LIMA 2015 di Langkawi, Malaysia, pada akhir Maret lalu.

Berdasarkan keterangan Goreslavsky, Indonesia juga tertarik pada helikopter Rusia, tank amfibi Be-200 dan kapal selam nonnuklir Rusia proyek 636.

Sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin telah menyampaikan tawaran ini kepada Ryamizard pada pertengahan Januari lalu. Tawaran tersebut sekaligus menindaklanjuti usulan serupa yang diajukan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden RI Joko Widodo dalam pertemuan antara kedua pemimpin negara di KTT APEC di Beijing, Tiongkok pada November 2014.

Di lain kesempatan, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Agus Supriatna menyampaikan Angkatan Udara Indonesia hendak mengganti pesawat tempur Amerika F-5 dengan pesawat tempur multifungsi Rusia generasi ke-4++ Su-35. Hal tersebut disampaikan Agus Supriatna kepada kantor berita Antara, Februari lalu. TNI Angkatan Udara (AU) Indonesia menilai pesawat Sukhoi Su-35 buatan Rusia memenuhi spesifikasi untuk melengkapi kekuatan TNI AU.

Meski Indonesia juga melirik pesawat tempur dari negara lain, Galuzin mengingatkan bahwa untuk saat ini Su-35 merupakan pesawat tempur multifungsi terbaik di dunia. Pesawat ini didesain untuk menghancurkan target udara dan darat dalam segala cuaca dengan senjata peluru kendali maupun rudal tanpa kendali.

Pesawat tempur Su-35 dilengkapi dengan radar jarak jauh yang dapat mendeteksi musuh dengan radius hingga 400 kilometer. Selain itu, pesawat ini memiliki dalam sistem navigasi yang sangat akurat serta unggul dalam melakukan manuver. (Indonesia. RBTH.com).

4/06/2015

Info Militer : Rusia Ajukan Draft Resolusi Penghentian Serangan ke Yaman

Serangan udara Arab Saudi ke Yaman. ©REUTERS/Khaled Abdullah
Serangan udara Arab Saudi ke Yaman. ©REUTERS/Khaled Abdullah
Rusia mengajukan draf resolusi penghentian serangan jet tempur di wilayah Yaman kepada Badan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam naskah tersebut, Rusia berharap Arab Saudi dan sembilan anggota Liga Arab berhenti membombardir pemberontak Syiah agar misi kemanusiaan dapat digelar.

“Selain itu, gencatan senjata dapat memberi waktu bagi negara dan organisasi internasional yang pegawainya terjebak di Yaman untuk menyelamatkan diri,” seperti dikutip dari naskah buatan Rusia yang dilansir AFP, Minggu (5/4).

Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov menyatakan banyak negara yang kini kesulitan menggelar evakuasi bagi warganya di Yaman. “Masih banyak warga asing di sana, diplomat, dan sebagainya. Kami mendorong agar mereka dievakuasi,” ujarnya.

Rusia menampik upaya intervensi di PBB ini karena desakan Iran. Untuk diketahui, Iran dan Rusia adalah sekutu dekat. Sementara konflik di Yaman, diyakini banyak pihak, merupakan perang tak langsung antara Saudi dan Negeri Para Mullah itu.

Sepekan terakhir, serangan jet tempur Liga Arab ke beberapa kota Yaman menyebabkan 185 orang tewas dan 1.282 luka-luka. Arab Saudi mengklaim mayoritas adalah anggota milisi pemberontak Houthi yang menggulingkan Presiden Abdurabuh Mansyur Hadi. Namun petugas rumah sakit Aden memastikan mayoritas korban adalah warga biasa.

Berkat serangan udara ini, pasukan loyalis Presiden Hadi berhasil merangsek masuk wilayah Kota Aden yang jadi lokasi pertempuran paling panas. Dua pekan lalu, Hadi menyurati Raja Salman, pemimpin Saudi, agar mengirim bantuan militer karena Ibu Kota Sana’a sudah diambil alih pemberontak syiah dari Klan Houthi.

“Kami sudah mendapat pasokan logistik dan senjata dari negara-negara Teluk,” kata Kasim al-Shaawi, salah satu tentara Yaman loyalis Presiden Hadi. (Merdeka.com).

Info militer : KRI Rigel 933 Masuki Selat Sicilia

KRI Rigel 933 (OCEA dossier )
KRI Rigel 933 (OCEA dossier )
Strait of Sicily - Kapal canggih brand new milik TNI AL KRI Rigel 933 yang baru dibeli dari Prancis kini memasuki Selat Sicilia, kawasan ini menjadi dekor aksi-aksi perlawanan Palestina di era 80-an.

Posisi KRI Rigel berkode lambung 933 saat berita ini ditulis adalah pada koordinat 37.5840 latitude/7.6492 longitude, arah haluan 74 derajat dengan kecepatan 13,3 knot, demikian data satelit yang dipantau detikcom dari Den Haag, Sabtu (4 April 2015).

Kapal Hydro Oceanography Multi Purpose Research Vessel buatan galangan OCEA Les Sables d’Olonne, Prancis, ini dalam perjalanan menuju Indonesia untuk bergabung memperkuat armada TNI AL. Operasi pelayaran kapal ini dipimpin oleh Komandan Kapal Mayor Laut (P) Muhamad Wirda Prayogo, S.T.

Rute pelayaran yang ditempuh KRI Rigel 933 dimulai dari dermaga pelabuhan Les Sables d’Olonne (Prancis), Malaga (Spanyol), Port Said (Mesir), Jeddah (Arab Saudi), Cochin (India), kemudian masuk Indonesia melalui Sabang dan berakhir di Jakarta.

Selat Sicilia yang kini dilalui KRI Rigel 933 memisahkan Tunisia dan Pulau Sicilia, pulau terbesar wilayah teritorial Italia paling selatan, yang menghadap ke benua Afrika. Di tengah selat ini ada pulau kecil bernama Pulau Pantelleria.

Pada era 80-an, kawasan ini dan Mediterranean Sea (Laut Tengah) sekitarnya menjadi dekor konflik Timur Tengah, antara lain oleh kelompok yang dikaitkan dengan Palestine Liberation Organization/PLO (Organisasi Pembebasan Palestina).

Salah satu yang dicatat sejarah adalah aksi pembajakan kapal pesiar mewah MS Achille Lauro. Kapal dengan 748 pelancong dan ratusan awak (Encyclopaedia Britannica) ini berangkat dari Pelabuhan Genoa (Italia), tak jauh dari Monaco, melintasi jalur pelayaran Laut Tengah menuju Port Said (Mesir). Kapal dibajak faksi Palestine Liberation Front (LPF) dengan tuntutan agar Israel membebaskan 50 tawanan Palestina.

Pada era kini, selat ini mendapat perhatian ekstra dari pemerintah Italia dengan menggelar operasi militer Mare Nostrum (Laut Kami, red) untuk melindungi perbatasan laut Italia. Operasi ini melibatkan lima kapal Angkatan Laut, dua helikopter, dua pesawat, sistem radar, dan 920 marinir. (Detik.com).